Lewati ke konten
3
Wilayah potensi tinggi
31
Wilayah potensi menengah
230
Kabupaten/kota di zona bahaya tinggi
65 mm
Hujan harian terlebat 3 hari ke depan · Kab. Tolikara
Status di halaman ini adalah indikasi yang dihitung otomatis dari zona bahaya longsor InaRISK dan prakiraan hujan model cuaca. Rujukan resmi adalah prakiraan wilayah potensi gerakan tanah bulanan PVMBG, Badan Geologi, serta arahan BPBD setempat.

Peta potensi gerakan tanah

Potensi tinggiPotensi menengahPotensi rendahPotensi sangat rendah Zona bahaya InaRISK rendah–tinggi Laporan warga

Titik diletakkan di bagian wilayah dengan bahaya longsor tertinggi, tempat curah hujan dihitung. Klik titik untuk detail. Arsiran zona bahaya bisa dimatikan di pojok kanan atas peta.

Sebaran per provinsi

ProvinsiTinggiMenengahRendahKomposisi wilayah
Aceh 1 10 11
Papua Pegunungan 1 3 4
Papua Tengah 1 3 4
Sumatera Utara – 10 12
Papua – 2 6
Sumatera Barat – 1 11
Papua Barat – 1 6
Papua Barat Daya – 1 4

26 provinsi lain memiliki wilayah berpotensi rendah. Pilih provinsi di atas untuk melihat rinciannya.

Berita longsor terbaru

Semua berita longsor

Wilayah berpotensi gerakan tanah

Grafik batang: hujan harian 3 hari terakhir dan prakiraan 3 hari ke depan (biru muda) di bagian wilayah yang paling rawan longsor.

Kabupaten/kotaPotensiZona bahayaHujan 3 hari laluHujan maks. 3 hari ke depanHujan harian
Kab. Tolikara
Papua Pegunungan
Tinggi Tinggi
43% wilayah bahaya tinggi
23 mm 65 mm
Lebat
Kab. Nabire
Papua Tengah
Tinggi Tinggi
57% wilayah bahaya tinggi
25 mm 63 mm
Lebat
Kab. Aceh Barat Daya
Aceh
Tinggi Tinggi
72% wilayah bahaya tinggi
86 mm 58 mm
Lebat
Kab. Nduga
Papua Pegunungan
Menengah Tinggi
68% wilayah bahaya tinggi
12 mm 45 mm
Sedang
Kab. Langkat
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
31% wilayah bahaya tinggi
42 mm 40 mm
Sedang
Kab. Pidie Jaya
Aceh
Menengah Tinggi
71% wilayah bahaya tinggi
26 mm 40 mm
Sedang
Kab. Aceh Timur
Aceh
Menengah Tinggi
38% wilayah bahaya tinggi
22 mm 38 mm
Sedang
Kab. Nagan Raya
Aceh
Menengah Tinggi
42% wilayah bahaya tinggi
63 mm 35 mm
Sedang
Kab. Bener Meriah
Aceh
Menengah Tinggi
79% wilayah bahaya tinggi
27 mm 35 mm
Sedang
Kab. Aceh Barat
Aceh
Menengah Tinggi
34% wilayah bahaya tinggi
62 mm 34 mm
Sedang
Kab. Dogiyai
Papua Tengah
Menengah Tinggi
92% wilayah bahaya tinggi
8 mm 34 mm
Sedang
Kab. Nias
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
39% wilayah bahaya tinggi
53 mm 33 mm
Sedang
Kab. Waropen
Papua
Menengah Tinggi
38% wilayah bahaya tinggi
19 mm 32 mm
Sedang
Kab. Mamberamo Tengah
Papua Pegunungan
Menengah Tinggi
82% wilayah bahaya tinggi
15 mm 31 mm
Sedang
Kab. Samosir
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
45% wilayah bahaya tinggi
23 mm 29 mm
Sedang
Kab. Aceh Jaya
Aceh
Menengah Tinggi
70% wilayah bahaya tinggi
52 mm 27 mm
Sedang
Kab. Deiyai
Papua Tengah
Menengah Tinggi
83% wilayah bahaya tinggi
22 mm 26 mm
Sedang
Kab. Nias Barat
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
30% wilayah bahaya tinggi
54 mm 26 mm
Sedang
Kab. Toba
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
58% wilayah bahaya tinggi
47 mm 23 mm
Sedang
Kab. Kepulauan Yapen
Papua
Menengah Tinggi
55% wilayah bahaya tinggi
44 mm 23 mm
Sedang
Kab. Karo
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
51% wilayah bahaya tinggi
50 mm 23 mm
Sedang
Kab. Pidie
Aceh
Menengah Tinggi
75% wilayah bahaya tinggi
35 mm 22 mm
Sedang
Kab. Kaimana
Papua Barat
Menengah Tinggi
59% wilayah bahaya tinggi
12 mm 21 mm
Sedang
Kab. Aceh Selatan
Aceh
Menengah Tinggi
64% wilayah bahaya tinggi
47 mm 21 mm
Sedang
Kab. Bireuen
Aceh
Menengah Tinggi
60% wilayah bahaya tinggi
28 mm 21 mm
Sedang
Kab. Yahukimo
Papua Pegunungan
Menengah Tinggi
72% wilayah bahaya tinggi
2 mm 21 mm
Sedang
Kab. Intan Jaya
Papua Tengah
Menengah Tinggi
68% wilayah bahaya tinggi
17 mm 20 mm
Sedang
Kab. Labuhanbatu Utara
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
31% wilayah bahaya tinggi
55 mm 20 mm
Sedang
Kab. Aceh Tengah
Aceh
Menengah Tinggi
94% wilayah bahaya tinggi
32 mm 20 mm
Sedang
Kab. Pakpak Bharat
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
65% wilayah bahaya tinggi
74 mm 17 mm
Ringan
Kab. Lima Puluh Kota
Sumatera Barat
Menengah Tinggi
53% wilayah bahaya tinggi
62 mm 15 mm
Ringan
Kab. Nias Selatan
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
44% wilayah bahaya tinggi
53 mm 15 mm
Ringan
Kab. Tapanuli Tengah
Sumatera Utara
Menengah Tinggi
47% wilayah bahaya tinggi
54 mm 12 mm
Ringan
Kab. Tambrauw
Papua Barat Daya
Menengah Tinggi
95% wilayah bahaya tinggi
67 mm 7 mm
Ringan
Kab. Humbang Hasundutan
Sumatera Utara
Rendah Tinggi
50% wilayah bahaya tinggi
48 mm 20 mm
Ringan
Kab. Padang Pariaman
Sumatera Barat
Rendah Tinggi
31% wilayah bahaya tinggi
35 mm 19 mm
Ringan
Kab. Keerom
Papua
Rendah Tinggi
69% wilayah bahaya tinggi
16 mm 19 mm
Ringan
Kab. Gayo Lues
Aceh
Rendah Tinggi
92% wilayah bahaya tinggi
34 mm 18 mm
Ringan
Kota Sawahlunto
Sumatera Barat
Rendah Tinggi
54% wilayah bahaya tinggi
7 mm 18 mm
Ringan
Kota Jayapura
Papua
Rendah Tinggi
59% wilayah bahaya tinggi
10 mm 17 mm
Ringan

Laporan warga: tanah longsor (30 hari)

Belum ada laporan longsor yang terverifikasi. Melihat retakan tanah, tebing runtuh, atau longsor di sekitar Anda? Laporkan di sini.

Kenali tanda dan selamatkan diri

Tanda awal gerakan tanah

  • Muncul retakan baru di tanah, dinding, atau lantai rumah; retakan makin lebar setelah hujan.
  • Pohon, tiang listrik, atau pagar miring; pintu dan jendela tiba-tiba sulit dibuka.
  • Mata air baru muncul atau air sumur dan rembesan lereng mendadak keruh.
  • Terdengar suara gemuruh atau kerikil berjatuhan dari tebing.

Saat hujan deras berjam-jam

  • Bila tinggal di lereng atau di bawah tebing, mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.
  • Jauhi lembah sungai di kaki bukit: longsor bisa membendung sungai lalu jebol menjadi banjir bandang.
  • Hindari melintasi jalan di tebing curam saat dan sesaat setelah hujan lebat.

Kurangi risiko

  • Jangan memotong lereng tegak lurus atau membuat kolam dan sawah di atas lereng curam.
  • Tanam pohon berakar dalam, buat saluran air agar air hujan tidak meresap ke lereng.
  • Laporkan retakan baru ke pemerintah desa atau BPBD; hubungi 112 bila terjadi longsor.

Baca panduan: Gerakan Tanah: Kenali Tanda-tanda Longsor dan Cara Menyelamatkan Diri, Menghadapi Banjir dan Tanah Longsor

Arti tingkat potensi (PVMBG)

TinggiGerakan tanah dapat terjadi bila curah hujan di atas normal; gerakan tanah lama dapat aktif kembali
MenengahGerakan tanah dapat terjadi, terutama di lembah sungai, tebing jalan, atau lereng yang terganggu
RendahJarang terjadi gerakan tanah, kecuali pada lereng yang terganggu
Sangat rendahPada umumnya tidak terjadi gerakan tanah

Cara menghitung. Zona bahaya tiap kabupaten/kota diambil dari indeks bahaya tanah longsor InaRISK BNPB: tinggi bila minimal 30% wilayahnya berkelas bahaya tinggi, menengah bila minimal 15% berkelas sedang atau tinggi. Curah hujan harian berasal dari model cuaca Open-Meteo di bagian wilayah yang paling rawan. Potensi menjadi tinggi bila zona bahaya tinggi diguyur hujan lebat (≥ 50 mm per hari dalam 3 hari ke depan, atau ≥ 100 mm dalam 3 hari terakhir), dan menengah bila hujannya sedang (≥ 20 mm per hari atau ≥ 50 mm dalam 3 hari). Cara ini mengikuti prinsip PVMBG, yaitu menumpangkan zona kerentanan gerakan tanah dengan curah hujan, tetapi dengan resolusi lebih kasar, sehingga tidak menggantikan peta resmi.