Kendaran BUKAN Sumber CO2 Terbesar di JABODETABEK?? Mari Cari Tahu

Ajak orang terdekat memahami keadaan Bumi kita
Sebarkan ke
Data dari aplikasi Nafas

Mudik lebaran kendaraan banyak keluar dari Jabodetabek otomatis dalam Jabodetabek sepi kendaraan. Jangan berharap kualitas udara menjadi bagus karena banyak faktor lain. Mudahnya rumus hitungan polusi udara bergantung pada 2 hal ini;

  1. Produsen Polusi
    sumbernya, bisa pabrik, pembakaran sampah, transportasi, dan sebagainya.
  2. Manipulator Polusi
    keadaan cuaca, atmosfer dan bentuk geografi daerahnya. manipulator itu ibaratnya gini, lagi demam ditambah minum es. atau lagi demam berendam dalam air dingin.

Hasilnya…. Sumber + Manipulator = POLUSI

Logikanya kalau pada mudik jumlah mobil di Jakarta turun dong… harusnya polusi udara juga turun., faktanya tidak tidak selalu begitu!


Jabodetabek 29 April 2022


Jabodetabek 1 Mei 2022


Selang beberapa hari langsung akut polusinya. Kok bisa?

Tanggal 29 April 2022 ada bibit siklon 98S yang mulai terbentuk di wilayah Selatan pulau Jawa. Angin kencang dari siklon ini membawa polusi di Jabodetabek ke daerah lain. Jadinya seolah-olah kualitas udaranya bagus, segar dan enak.

Setelah bibit siklon mereda, polusinya balik lagi! Kelihatan-kan peran Manipulator disini, apa itu? Cuaca!

Data dari nafasin sewaktu PPKM darurat bulan Juli 2021., polusi udara malah naik.






Waktu itu di Jabodetabek indikator PM2.5 naik 12%, di Bogor sampai 33%. Dari sini disimpulkan kendaraan bermotor bukan sumber polusi utama di Jabodetabek?

Anda harus ketahui bahwa penyebab polusi udara tidak hilang dalam hitungan 1 – 2 hari. Butuh bertahun-tahun sampai semua partikel PM2.5 benar-benar memudar/mengendap.

Menurut saya kendaraan tetaplah sumber polusi udara terbesar di Jabodetabek. Gas CO2 dari pembakaran BBM perlu waktu tahunan untuk memudar. Jadi wajar saja kalau momen mudik bukan menjadi patokan kualitas udara tiba-tiba membaik.

Kalau belum punya aplikasi nafas, silahkan download disini: https://nafas.co.id/

Ajak orang terdekat memahami keadaan Bumi kita
Sebarkan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.